Jumat, 21 Oktober 2011

Posted by Rizky Ramadhani On 10/21/2011 12:32:00 AM
" Ketika "
oleh Rizky Ramadhani

ketika sebuah tujuan kita menyimpang
kita bingung hendak kemana angin bertiup
dan seakan terjebak pada manusia-manusia kritis itu
aku tidak bisa keluar dari kotak ini
semakin membunuh suaraku,
mencekik leher
untuk menuju kesana
sementara jalan masih badai
aku takut tenggelam
Tuhan, harapanku pada-Mu
aku tak mungkin menahan angin
hari-hari ini adalah berat
menentukan masa depan
dan harus memilih
aku tak tahu, aku ragu



"Rakyat  dan Mahasiswa "
Oleh Rizky Ramadhani

rakyat Indonesia
bersama mahasiswa
didalam pengekangan
1965, 1998 adalah saksi bisu
dimana kekuatan melaju
sekarang tinggal cerita
kesibukan dan demoralisasi



" Cerita Sore Itu"
Oleh Rizky Ramadhani

manusia-manusia yang tak pernah mati
di rel kereta usang
pedagang asongan
berdenyut..
aku terhanyut
wetengku lara?



" Lusuh "
5 April 2011
Oleh Rizky Ramadhani

aku adalah kata yang terpenggal
tak ingin melanjutkan
tapi jadi lusuh

aku adalah angin
yang terbang dan mengalir
kemana tujuan hendak digapai

aku adalah pelabuhan
berlabuh para pemikiran
dan kefrustasian ini

aku adalah mati
dan ajal-ajal itu
semakin mendekat
seakan berteriak keras di telinga

aku ingin menjadi manusia
manusia yang berpikir
tentang hati, tentang mati
aku tak ingin sekali
bersandar pada tiang rapuh

Posted by Rizky Ramadhani On 10/21/2011 12:32:00 AM
" Ketika "
oleh Rizky Ramadhani

ketika sebuah tujuan kita menyimpang
kita bingung hendak kemana angin bertiup
dan seakan terjebak pada manusia-manusia kritis itu
aku tidak bisa keluar dari kotak ini
semakin membunuh suaraku,
mencekik leher
untuk menuju kesana
sementara jalan masih badai
aku takut tenggelam
Tuhan, harapanku pada-Mu
aku tak mungkin menahan angin
hari-hari ini adalah berat
menentukan masa depan
dan harus memilih
aku tak tahu, aku ragu



"Rakyat  dan Mahasiswa "
Oleh Rizky Ramadhani

rakyat Indonesia
bersama mahasiswa
didalam pengekangan
1965, 1998 adalah saksi bisu
dimana kekuatan melaju
sekarang tinggal cerita
kesibukan dan demoralisasi



" Cerita Sore Itu"
Oleh Rizky Ramadhani

manusia-manusia yang tak pernah mati
di rel kereta usang
pedagang asongan
berdenyut..
aku terhanyut
wetengku lara?



" Lusuh "
5 April 2011
Oleh Rizky Ramadhani

aku adalah kata yang terpenggal
tak ingin melanjutkan
tapi jadi lusuh

aku adalah angin
yang terbang dan mengalir
kemana tujuan hendak digapai

aku adalah pelabuhan
berlabuh para pemikiran
dan kefrustasian ini

aku adalah mati
dan ajal-ajal itu
semakin mendekat
seakan berteriak keras di telinga

aku ingin menjadi manusia
manusia yang berpikir
tentang hati, tentang mati
aku tak ingin sekali
bersandar pada tiang rapuh

Posted by Rizky Ramadhani On 10/21/2011 12:29:00 AM
" Rindu Untuk-Mu"
Oleh Rizky Ramadhani

aku rindu
pada kehangatan
abadi

aku rindu
untuk mengabdi kepada Mu

rasanya terus rindu
tanpa ada yang
membayarnya abadi

aku rindu..
pada Tuhan



"Jalan Kita"
28 Oktober 2010 oleh Rizky Ramadhani

hujan turun lagi
masih dalam kebutaan-kebutaan
aku tak melihat sesuatu
tak bersuara, dan hening

mari berbicara soal jalan kita
ada yang berbelok, sebagian menoleh
beberapa persimpangan
tidak lepas, tidak kulihat
biarpun tahu, kita kan diam
cerah biarlah cerah
meskipun tak lagi tunjukan jalan

jalan kita berbeda
sulit untuk searah


"Ini Borneo, Tuan!"
Oleh Rizky Ramadhani

jalan kami masih becek, tuan
sudah sebulan, setahun,
atau rasanya belum pernah berubah
hanya truk-truk mengkilap itu yang ada
bukan karena bodinya habis dicuci
bukan karena masih baru

kami kaya
tapi bukan berarti orang kaya
anda lebih tau mengapa demikian
rumah kami memang ukiran
kenangan terakhir bersama sisa hutan
dan karena hutan malang itu,
jalan menjadi suram

memang kotor sungai kami
semenjak tersebut harta-harta rahasia kami
mana kau tahu soal kotornya?
mata lebih silau akan logam
bukankah lebih sejuk disana?
ini kalimantan, borneo tuan!


"Dan Masa Itu Telah Datang"
Oleh Rizky Ramadhani

dunia ini menjadi kacau
orang-orang berlari ketakutan
pada alam yang semakin muram

tak pernahkah kau melihat
dunia bergelora merah membara
pada tentara yang kehausan
demi peluru-peluru yang memberedel nyawa

dan tentang orang-orang yang lupa agama
serta budaya yang merana
manusia tertawa pada cerminya sendiri
entah dunia mau apa
tak jelas arah ke nirvana

dan soal rakyat ditelapak kaki kapitalis
terdesak harga pangan
semakin lapar
kesenjangan tanpa batas

bapak-bapak dan para pemuda meninggalkan kampungnya
ladang mati kekeringan
membusuk pada masalah yang berlarut

belum lagi soal bayi tanpa ibu
terbuang digot-got perkotaan
lengkaplah masa itu
bahkan untuk bernafas, manusia saling membunuh



"Puitis Autis"
Oleh RR

mungkin hujan atau pelangi sore
senyumlah matahari biru langit itu
tawa duka bahagia berakhir indah, tidak!
cemburu murka amarah berakhir tangis, tidak!
kebersamaan ini adalah titik awal
aku kamu kita edelweiss yang malang
akankah seperti dongeng cinderella, tidak!
hati terlanjur jatuh mati
mata terpejam nafas terengah
aku bertanya?
ya
pada malam itu
juga lihatlah bintang
entah menjawab apa
cukup!
diam saja lalu menggerutu
aku lelah pada suasana ini
aku ingin memberontak
berteriak dalam keheningan
aku rindu waktu desember
dimana kamu pergi ke dalam hatiku, tidak!
aku tau kamu bohong
memang
tatapan matamu malu tapi mau
pertama kali jelek sekali
semua itu jadi kenangan menyakitkan
bingung dan terus membingungkan
pada permainan ini
sudahlah
tapi akan terus berjalan hingga semampu kita
habis
kata siapa?
tidak!
belum tentu
barangkali ada senyuman di balik batu
suka cita
hancur
pedih
berkeping perihnya
air mata habis
pengorbanan sia-sia
harapan musnah
bagaimana dengan mimpi?
berbeda kawan,
bingung lagi, sampai kapan?hah!
alasan saja!
bukti merajam
sendu sedan itu
mengadu pada senja
mengadu pada mendung
mendung yg sembunyikan tangis
cinta gombal
seperti batu
egois
memang?
rahasia tertutup di balik senyuman
dan tentang satu januari
sudah dimulai, terhenti
seakan ada tanda tanya
pada dirinya
mungkinkah bila kubertanya pada bintang-bintang
jadi lirik lagu yang kubenci
ingatan tentangnya bersamaku harus dilupa
sakit
lagi menyakitkan
lagi-lagi egois
padahal aku tidak egois
sentuhan kasar
dan berakhir



"Harapan Akhir"
 Oleh Rizky Ramadhani

hari ini semua seperti biasa
aku pikir aku tiada
apakah ya?
tidak
aku masih dalam kehangatan-Nya
aku takut, Tuhan
jangan ada lagi
biar saja aku membeku
kecuali kabar kepada orang rumah
semakin cemas menanti pulang
diam. aku hanya sedang mencari
siapa aku
aku bertanya
ternyata tuhan tau jawaban
semakin jelas
bahwa kita bukan siapa" dan bukan apa"
hanya kesombongan tertinggal
dan kepada manusia
sadar tak bisa sendirian


"Tentang Jalan Hidup"
Oleh Rizky Ramadhani

kita tidak pernah mengerti tentang jalan hidup
dari mana ia berasal, dan akan kemana kita
mana yang benar menjalani hidup
atau memilih jalan hidup

ketika semua orang berjalan pada tujuannya
sementara kita diam. kita bingung apa tujuan kita
kita bertanya
tapi tak ada jawab
nampaknya biasa saja

rasanya tidak ada masalah
tapi kok terasa hampa
dan pada akhirnya berharap, kehidupan akan menemukan jalannya